Netflix and Too Chill: Pemburu Rumah Menghemat Waktu Inspeksi

Lebih dari setengah pemburu rumah di Australia menghabiskan waktu yang sama untuk menginspeksi properti dengan waktu yang dihabiskan untuk menonton satu episode Netflix, berdasarkan penelitian baru.

Yah, bisa kita mengerti. Kalian melihat rumah yang kalian suka, dan langsung saja kalian mau beli, lengkap dengan kutil-kutilnya!

Tapi, ambil nafas dulu, karena FOMO (fear of missing out), atau takut kalah, bisa berdampak buruk – dengan sepertiga pembeli mengaku menyesal.

Dengan tidak melakukan uji kelayakan pada properti yang akan kalian beli juga akan berdampak buruk saat mengajukan aplikasi cicilan rumah, terutama apabila valuasi bank tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan.

Dan ternyata, saat ini ada banyak pemburu rumah yang menerkam sebelum melihat!

Survey atas 1000 pemilik property baru-baru ini yang diselenggarakan oleh ME Bank mengungkap bahwa 55% pemburu rumah menghabiskan kurang dari 60 menit meneliti properti yang akhirnya mereka beli, walaupun ini adalah salah satu komitmen terbesar dalam hidup mereka.

Itu kurang lebih sama dengan panjangnya satu episode Netflix berdurasi 55 menit.

Dampak COVID-19

 Ternyata kita tidak hanya menjadi lebih jago dalam maraton nonton selama COVID-19.

COVID-19 juga mengurangi waktu yang dibutuhkan pembeli untuk meneliti properti.

Tetapi ini tidak selalu menjadi kesalahan pembeli.

Sekitar dua per tiga (65%) pembeli baru-baru ini mengutarakan “larangan-larangan real estate berdampak pada kesanggupan mereka untuk menginspeksi dan membeli properti mereka”.

Dan mengejutkan lagi, hampir setengah (45%) dari pembeli yang dibatasi oleh lockdown mengaku mengetuk pintu vendor untuk menginspeksi property diam-diam, dan juga melihat foto-foto dan/atau video-video propertinya.

Isu terselubung

Kurangnya waktu inspeksi memicu sekitar 61% dari pembeli rumah di Australia menemukan masalah-masalah dengan property SETELAH mereka pindah masuk.

Sekitar 40% dari grup ini menyatakan bahwa mereka gagal menemukan masalah-masalah karena mereka “tidak punya keahlian atau pengalaman dalam menginspeksi properti”, sedangkan 33% benar-benar “jatuh cinta pada properti dan mengabaikan masalah-masalahnya”, dan 18% “tidak sabar dan khawatir dengan harga yang menanjak”.

Secara keseluruhan, masalah-masalah paska-membeli paling utama termasuk kualitas bangunan (32%), kualitas kerja pengecatan (28%), taman dan pagar (23%), perlengkapan lain-lain (21%), dan tetangga (17%).

Di antara pemilik-pemilik yang mengutarakan isu-isu di atas:

– 34% mengalami kadar penyesalan pembeli terkait pembeliannya.

– 58% akan membayar lebih sedikit untuk properti tersebut jika mereka menemukan masalah-masalah lebih awal.

– 84% mengeluarkan uang (atau berencana) untuk membenarkan, mengganti, atau memperbaiki masalah-masalah yang bermunculan.

Apa inti ceritanya? Perasaan akan selalu dilibatkan dalam membeli rumah untuk ditinggali, dan ini dapat meredupkan pertimbangan kalian.

“Pertimbangkan lagi firasat yang mengganggu yang menyebabkan kegelisahan dan bekerjalah dengan inspektor properti professional untuk meneliti propertinya buat kalian”, kata General Manager ME Bank, John Powell.

“Sangat penting juga untuk mengetahui berapa banyak yang bisa kalian pinjam sebelum kalian membeli properti, jadi kalian bisa membeli dengan penuh percaya diri bahwa kalian punya dukungan finansial yang kokoh.”

 

Untuk mencari tahu seberapa banyak pinjaman yang bisa kalian peroleh, berbicaralah pada mortgage broker kalian. Mereka akan senantiasa bersedia untuk duduk dengan kalian, membantu kalian mengambil nafas, dan mengarahkan kalian agar kalian tidak meminjam lebih dari jangkauan kalian.

 

By: David R. Sutantyo