Mengapa kita menikmati musik yang membuat sedih?

Sebagian dari kita malah merasakan kenikmatan ketika mendengar musik yang membuat sedih. Ada alasan di balik mengapa musik sedih menimbulkan perasaan menyenangkan.

Sebuah lagu bisa terasa sedih karena beberapa faktor yang terkandung di dalamnya. Beberapa lagu mengangkat nada-nada muram dan memengaruhi seseorang dari segi nada. Sementara itu, beberapa mungkin menikmati kesan keputusasaan dalam lirik. Beberapa penelitian membuktikan, pada umumnya orang-orang memang tertarik pada musik sedih. Para ahli menjelaskan daya tarik ini dengan apa yang mereka sebut sadness paradox atau paradoks kesedihan. Lewat hal ini, seseorang memperoleh kepuasan atau kesenangan dari mendengarkan musik sedih.

Berkaitan dengan nostalgia

Reaksi seseorang terhadap emosi yang tertanam dalam musik cukup beragam. Menurut psikolog Australia Sandra Garrido dan Emery Schubert, paradoks kompleks ini tidak memiliki jawaban yang sederhana. Pada intinya, salah satu daya tarik terbesar dari musik sedih terletak pada kemampuannya untuk membangkitkan nostalgia. Mengingat kembali kenangan masa lalu dapat meningkatkan suasana hati, terutama jika ingatan itu terkait dengan momen penting dan bermakna dalam hidup.

Musik sedih turut dapat membantu seseorang yang menghadapi kesedihan menggali emosi mereka. Hal ini setara dengan ekspresi dari musik itu sendiri. Pemecahan emosi ini dapat menimbulkan perasaan damai. Kita juga merasa memiliki hubungan dengan lagu sedih yang kita dengarkan.

Memicu pelepasan hormon

Di samping berkaitan dengan nostalgia, musik sedih dapat memicu pelepasan hormon yang disebut prolaktin. Hormon ini dapat membantu mengurangi perasaan sedih seseorang. Fakta di balik pelepasan hormon ini cukup kompleks. Ketika seseorang mendengarkan lagu sedih, kesedihan yang ia rasakan teralihkan pada respon perasaan terhadap lagu. Perasaan sedih yang diakibatkan oleh lagu ini lah yang pada akhirnya membantu pelepasan hormon, sehingga ia merasa lebih bahagia.

Pada dasarnya, musik sedih menipu otak untuk melibatkan respon baru dengan melepaskan prolaktin. Dengan tidak adanya peristiwa traumatis, tubuh dibiarkan dengan campuran pelepasan hormon yang terasa menyenangkan. Hal ini berbeda dengan ketika seseorang mengalami pengalaman menyedihkan yang bisa mengakibatkan perasaan trauma.

Senang karena keindahan musik

Seseorang yang memiliki tingkat empati lebih besar, diyakini lebih menyukai musik sedih. Mereka sering mendengarkan musik sedih, karena menghargai nuansa emosional di dalamnya. Mereka juga menganggap nuansa ini sebagai sesuatu yang dipandang indah secara estetika. Namun, hal ini cukup kontradiktif, mengingat orang yang berempati mengalami emosi lebih dalam.

Sebuah studi tahun 2014 dari Ai Kawakami, Kiyoshi Furukawa, dan Kazuo Okanoya tentang paradoks kesedihan, sempat membahas kontradiksi itu. Menurut studi tersebut, kesedihan yang ditimbulkan oleh musik muncul melalui penularan emosional. Kesenangan yang ditimbulkan oleh musik terjadi sebagai respon terhadap persepsi kita tentang keindahan musik. Karena kedua mekanisme ini terjadi bersamaan, ada kemungkinan untuk mengalami kesedihan yang menyenangkan saat mendengar musik sedih.

Teman imajiner

Pilihan musik seseorang seringkali mencerminkan pikiran seseorang. Musik sedih bisa menjadi teman imajiner yang memberikan dukungan dan empati setelah mengalami kehilangan. Pendengar seakan menikmati kehadiran seseorang yang memiliki suasana hati yang sama. Hal ini dapat membantu mengatasi perasaan sedih. Adanya rasa keterkaitan membuat seseorang merasa memiliki teman ketika mendengar lagu sedih.

Di sisi lain, menurut penelitian dari American Psychological Association tahun 2020, orang yang hidup dengan kesedihan yang terus menerus karena depresi klinis, mungkin juga lebih suka dengan musik sedih. Alasan mereka bukan karena emosi yang disampaikan musik. Sebaliknya, ketertarikan mereka hadir karena musik sedih cenderung membawa tingkat energi yang rendah, sehingga membuat mereka merasa lebih santai.

Tidak terjadi pada semua orang

Sekalipun paradoks kesedihan benar adanya, tidak semua orang bisa menikmati nada-nada melankolis. Menurut Henna-Riikka Peltola dari Universitas Jyväskyl Finlandia, sejumlah besar orang juga mengaitkan musik sedih dengan pengalaman menyakitkan. Mengingat pengalaman ini bisa terasa melelahkan secara mental dan fisik. Lewat penelitiannya, Peltola turut menemukan fakta perasaan negatif lebih terasa pada wanita dan peserta yang lebih muda.

Suka atau tidak dengan musik yang membuat sedih, preferensi pribadi menjadi faktor utama dalam memilih musik. Ada kalanya seseorang ingin ditemani dengan lagu sedih. Namun, ada masa ketika seseorang ingin melepaskan diri dari musik yang meningatkan diri pada kenangan buruk. Para peneliti masih berusaha mendapatkan wawasan tentang bagaimana manusia memandang musik dan memahami paradoks yang ada di baliknya.

 

By : Ika