Hal yang perlu dilakukan agar siap mental sebelum menikah

Agak sulit untuk memikirkan hal-hal yang perlu Anda lakukan untuk persiapan pernikahan dari sisi psikologis. Pikiran Anda pasti akan bercabang antara euforia dan stres yang tak terhingga, mulai dari mempersiapkan gedung pernikahan, gaun pengantin, tata rias, katering, bulan madu, dan masih banyak lagi.

Untuk mempersiapkan mental Anda saat menyongsong hari pernikahan yang kian dekat dan menjalani hari-hari setelah pesta pernikahan usai, berikut sejumlah hal yang dapat Anda lakukan untuk hidup bersama-sama sebagai suami-istri, sebagaimana dikutip dari Bridestory dan Marriage.com.

 

Menangani Konflik dan Stres Sebagai Pasangan

Stres dan tekanan akan meningkat seiring berjalannya waktu. Anda akan menghadapi masalah sebagai individu dan sebagai pasangan, dengan orang lain dan di antara Anda berdua. Fleksibel dalam menghadapi konflik dan stres adalah keterampilan penting untuk dikembangkan dalam hubungan jangka panjang.

Hari-hari dan bulan-bulan pertama romansa pernikahan membuat kita untuk menunjukkan sifat yang lebih baik dalam banyak hal. Sebelum menikah, mungkin kamu dan pasangan mampu menahan amarah, menunjukkan toleransi dan dukungan, menyimpan ledakan emosi untuk diri sendiri, dan tidak ingin merusak momen bersama. Pernikahan akan mengubah kondisi tersebut, dan semua reaksi emosional Anda pada akhirnya akan terlihat.

Inilah sebabnya penting untuk mempertimbangkan bagaimana Anda berdua harus bisa menangani stres dan bereaksi terhadap konflik. Apakah Anda mundur atau malah semakin dekat, apakah Anda berteriak, apakah Anda marah atau sedih? Apakah Anda tahu bagaimana berkomunikasi secara asertif? Untuk mempersiapkan pernikahan yang bahagia, Anda harus bisa meredam amarah dan mengalah satu sama lain.

Ikuti Kelas Pranikah

Jika Anda awam atau merasa memiliki sedikit pengetahuan tentang kehidupan pernikahan, tak ada salahnya untuk mengikuti kelas atau kursus pranikah agar wawasan semakin luas. Umumnya, kelas untuk calon pengantin ini akan dipandu oleh pembimbing profesional atau pemimpin agama yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda.

Mereka juga akan membuka pikiran Anda dan memberi berbagai tip praktis, atau membantu Anda dalam mengatasi ketakutan atau kecemasan sebelum menikah. Berbeda dengan meminta saran dari keluarga atau teman, pembimbing kelas biasanya lebih netral dan tidak memihak sehingga dapat memberikan Anda opini atau informasi yang obyektif.

Mulai Bicarakan Keuangan, Anak-Anak, Perselingkuhan, dll

Banyak pasangan cenderung menghindari membicarakan hal-hal tersebut sebelum menikah, karena mereka merasa hal itu akan ‘membunuh’ romansa. Anda bisa mulai berfantasi tentang berapa banyak anak yang ingin Anda miliki. Namun, Anda juga perlu mendiskusikan aspek realistis. Pikirkan dengan matang terkait pertanyaan, apa filosofi Anda tentang membesarkan anak-anak, apa yang akan Anda izinkan dan apa yang akan Anda larang? Bagaimana Anda akan mendisiplinkan mereka? Bagaimana Anda akan mengatur keuangan?

Lalu, seberapa cocok Anda dalam hal menghasilkan dan membelanjakan uang? Apakah perselingkuhan merupakan pemecah belah pernikahan, atau dapatkah itu diatasi? Apa yang Anda harapkan dari pasangan jika terjadi perselingkuhan? Apakah Anda akan menanganinya bersama atau mengharapkan mereka memperbaikinya sendiri?

Pernikahan dapat mempertahankan aura romantis dalam waktu yang lama, namun masalah akan muncul. Dan itulah titik di mana persiapan pernikahan Anda akan terbukti menjadi faktor penentu, apakah masalah besar ini menghancurkan hubungan Anda, atau memotivasi Anda berdua untuk berkembang. Jangan takut untuk membicarakan masalah di atas sebelum mereka muncul. Itu adalah tanda kepedulian terhadap calon istri atau suami Anda dan ingin melakukan segala yang ada untuk masa depan bersama.

Belajar memaafkan

Saling memaafkan adalah salah satu kunci dalam mencapai pernikahan yang bahagia, jadi mulailah berlatih untuk melakukannya. Menyimpan dendam pada pasangan hanya akan menyakiti dan membawa suasana negatif pada pernikahan. Jadi, sebaiknya belajar memaafkan secara tulus dan mengambil hikmah dari permasalahan yang Anda hadapi. Dengan demikian, Anda dapat saling belajar satu sama lain dan tumbuh bersama tanpa harus terpisahkan oleh kegetiran atau kebencian.

Bangun Persahabatan

Cara terbaik untuk menjalani sebuah pernikahan adalah dengan saling menjadi sahabat. Jangan melihat pasangan sebagai sosok kekasih atau pemimpin, tapi juga seseorang yang dapat Anda ajak berbicara tentang segala hal, tempat Anda berbagi cerita dan tawa, impian, keluh kesah, serta membuat Anda merasa nyaman menjadi diri sendiri di hadapannya. Dengan begitu, Anda tidak akan cepat marah atau bersikap terlalu serius dalam menghadapi masalah.

 

By: Iskandar