Alasan Psikologis di Balik Menunda Pekerjaan

Untuk berhasil mengatasi menunda pekerjaan, kita perlu tahu alasan di baliknya dan merumuskan tindakan realistis untuk menghentikannya. Menunda seringkali menghambat seseorang mengejar tujuan mereka. Penundaan sendiri seringkali dikaitkan dengan nilai yang lebih buruk di sekolah atau gaji yang lebih rendah di tempat kerja. Selain itu, penundaan juga berkaitan dengan berbagai masalah lain, seperti peningkatan stres, kesehatan fisik, hingga kesehatan mental yang buruk. Beberapa di antara kita mungkin mengira menunda hanyalah masalah kemauan, namun alasannya jauh lebih kompleks dari itu.

Bukan hanya soal motivasi

Ketika harus segera menyelesaikan tugas atau mencapai suatu tujuan, kita biasanya mengandalkan pengendalian diri. Motivasi juga menjadi salah satu faktor yang mendukung pengendalian diri kita. Dengan mengharapkan imbalan atas usaha yang dilakukan, kita jadi merasa lebih mungkin menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Dalam berbagai kasus, imbalan menjadi hal yang sangat beragam bentuknya. Imbalan tak hanya berupa materi, namun bisa juga berbentuk waktu yang bisa digunakan untuk aktivitas lain atau tindakan self-reward lainnya.

Di sisi lain, ada bermacam faktor demotivasi yang bisa kita alami, sehingga menimbulkan penundaan. Misalnya, adanya kecemasan, ketakutan akan kegagalan, dan emosi negatif lainnya dapat menyebabkan kita menunda hal yang tidak perlu. Kelelahan yang terjadi akibat harus bekerja keras sepanjang hari juga dapat membuat kita semakin sulit mengendalikan diri jika sudah larut malam.

Ketika semua faktor negatif lebih besar daripada pengendalian diri dan motivasi, akhirnya kita menunda-nunda pekerjaan. Secara garis besar, seseorang menunda-nunda karena faktor seperti kelelahan dan penghargaan yang jauh di masa depan, dibandingkan dengan faktor demotivasi, seperti kecemasan dan ketakutan akan kegagalan.

Tujuan terlalu abstrak

Seseorang lebih cenderung menunda-nunda ketika tujuan kurang jelas atau abstrak. Misalnya, kita berlatih yoga hanya untuk merasa lebih bugar. Karena merasa tidak ada urgensi untuk mengerjakannya, kita justru malah lebih sering mengabaikannya. Sebaliknya, tujuan yang lebih spesifik seperti berlatih yoga di Studio A setiap Senin dan Rabu terasa lebih konkret dan bisa dikerjakan.

Selain itu, ada pula faktor lain yang dapat membuat tujuan terasa abstrak. Misalnya, tujuan yang dianggap tidak mungkin juga dianggap relatif abstrak. Ketika seseorang merasa tidak mungkin untuk mencapai tujuan tertentu, ini dapat menyebabkan mereka melihat tujuan itu sebagai abstrak, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemungkinan mereka akan menunda-nundanya.

Tujuan terlalu jauh

Seseorang sering menunda-nunda tugas yang terkait dengan hasil, seperti halnya hukuman atau penghargaan yang hanya akan mereka terima beberapa saat setelah menyelesaikan tugas. Manusia cenderung mengabaikan nilai hasil yang jauh di masa depan. Kita lebih mudah untuk mengabaikan nilai perolehan nilai yang baik pada ujian saat ujian itu masih berminggu-minggu lagi dibandingkan jika hanya beberapa hari lagi.

Hal semacam ini merupakan salah satu alasan mengapa orang menunggu sampai tepat sebelum batas waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan. Oleh karena itu, seseorang seringkali menunjukkan bias saat mereka memilih untuk terlibat dalam aktivitas yang memberi mereka imbalan dalam jangka pendek, dengan mengorbankan mengerjakan tugas yang akan menghasilkan hasil yang lebih baik bagi mereka dalam jangka panjang.

Merasa kewalahan

Seseorang terkadang menunda-nunda karena merasa kewalahan dengan tugas-tugas yang harus mereka tangani. Perasaan kewalahan dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti memiliki satu tugas yang terasa terlalu besar atau berat, atau memiliki banyak tugas kecil yang terus bertambah. Ketika hal ini terjadi, seseorang mungkin hanya memutuskan untuk menghindari tugas-tugas tersebut.

Dalam kasus lain, mereka mungkin mencoba untuk menanganinya, tetapi akhirnya merasa lelah sebelum tugas-tugas itu selesai. Misalnya, jika kita perlu membersihkan seluruh rumah, namun kita terpikir bahwa tugas ini akan memakan waktu lama dan melibatkan begitu banyak hal dapat menyebabkan kita merasa kewalahan. Karenanya, kita mungkin menghindari untuk memulainya sejak awal.

Terlalu perfeksionis

Seseorang terkadang menunda-nunda karena perfeksionisme mereka. Orang yang perfeksionis takut membuat kesalahan sehingga mereka akhirnya tidak mengambil tindakan sama sekali. Hal ini juga membuatnya begitu khawatir untuk mengerjakan sesuatu dengan kekurangan, sehingga mereka akhirnya mengerjakan ulang.

Meskipun begitu, perfeksionisme tidak selalu mengarah pada penundaan. Bahkan ada situasi di mana perfeksionisme dapat membuat seseorang cenderung tidak menunda-nunda. Perfeksionisme yang bermasalah adalah ketika orang menunda sesuatu yang tidak perlu karena mereka terlalu khawatir tentang pekerjaan mereka yang tidak sempurna.

 

By: Ika