Rico Huang ~ Habiskan Jatah Gagal Selagi Muda

Berawal dari rumahnya yang mengalami musibah kebakaran saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Rico Huang memutuskan untuk memperbaiki kehidupan finansialnya dengan membantu orangtua berdagang jam tangan selama tiga tahun. Beranjak SMP, dengan modal uang jajan dan angpao seadanya, Rico memulai bisnis pertamanya dengan berjualan aksesoris handphone hingga akhirnya bangkrut karena tak kuat bersaing dengan perang harga di e-commerce. Dari situlah muncul jiwa entrepreneur dalam dirinya. Menurutnya, selagi masih muda kita habiskan jatah gagal, supaya jatah sukses kita lebih cepat datang. Maka dari itu, ‘jatuh berkali–kali’ adalah hal yang biasa bagi pemuda sukses kelahiran Jakarta, 14 November 1995 ini.

 

Ketika gagal berbisnis aksesoris handphone, apa yang kemudian Anda lakukan?

Gagal memang menyakitkan, tapi saya tak mau menyerah. Saya bangkit lagi dengan menjalankan segala usaha, mulai dari jualan mie ayam, nasi uduk, dan menawarkan kredit handphone ke guru-guru saya di sekolah.

Setelah itu, saya mulai bisnis casing handphone custom, karena pada saat itu–zamannya BlackBerry masih hits–banyak orang yang ingin membeli casing handphone dengan gambar sesuai keinginan sendiri atau suka-suka, tetapi belum banyak orang yang bisa membuatnya.

Dari peluang bisnis tersebut, saya mulai merambah ke kaos, topi, mug, dan jaket yang bisa dikustomosasi. Lalu, saya mendirikan PT. Alona Indonesia Raya bersama partner dan menjadikan saya sebagai co-founder dari DropshipAja.com (supplier produk custom) dan Alona.co.id (edukasi bisnis online).

Bagaimana sistem pemasarannya?

Sistem pemasaran untuk menjual produk custom adalah dengan melakukan promosi di media sosial dan dengan menggandeng reseller. Kini, bisnis saya sudah memiliki 100.000 reseller di seluruh Indonesia.

Kapan awal mula Anda mengenal bisnis online?

Saya tahu bisnis online dari kakak saya yang memiliki toko handphone. Dia menyarankan saya untuk membuka bisnis online. Dari situ, saya mulai jualan online menggunakan platform Kaskus. Kemudian saya promosikan ke berbagai media sosial, seperti Twitter dan Instagram. Saya akui, media sosial menjadi kendaraan saya untuk mendapatkan uang.

Saya juga terinspirasi dari teman yang bisa membeli ruko dari hasil bisnis online. Selain itu, saya sempat menjalani bisnis buzzer di Twitter dengan ratusan ribu hingga jutaan followers. Modal waktu itu sekitar Rp 50 jutaan, dengan membangun delapan akun Twitter. Kedelapan akun tersebut karakternya berbeda-beda, mulai dari akun tentang astrologi hingga motivasi. Saya juga pernah nge-tweet soal komedi dari delapan segmen yang berbeda.

Juga sering bikin trending topic dari Twitter. Setelah itu, mulai merambah bisnis online lewat Instagram. Waktu itu, saya beli dua akun Instagram dengan nilai masing-masing Rp 105 juta dan Rp 60 juta. Lalu, berlanjut ke dunia digital marketing dengan belajar bersama teman-teman. Dari digital marketing, saya bisa mendata orang yang tidak kenal sama sekali sampai kita dekat dan dia membeli produk saya.

Kelebihan bisnis online ketimbang offline?

Dari bisnis online, saya bisa tahu kebiasaan konsumen secara data. Misalnya, saat dia mencari sebuah produk seperti laptop, saya bisa memunculkan iklan laptop ke dia berkali-kali sampai dia beli laptop dari barang jualan saya. Semua bisa dilakukan berkat teknologi dari online marketing. Bisnis online juga bisa dimulai dengan modal kecil, tak seperti bisnis offline yang harus punya modal besar untuk menyewa tempat dan juga gaji karyawan.

Sementara di online, kita bisa sekadar menawarkan produk ke teman melalui aplikasi pesan instan, media sosial atau bahkan buka toko online di e-commerce secara gratis. Dari nol hingga sampai saya punya 200an karyawan, 95 persen penghasilan saya didapat dari media sosial. Mulai orang daftar dari reseller, beli produk, dan kadang membuka seminar gratis, itu semua dari online.

Pencapaian terbesar yang Anda raih selama berbisnis?

Pencapaian terbesar saya tentunya adalah membahagiakan keluarga. Selain itu, di umur 21 tahun, saya bisa membeli mobil pertama Mercedes Benz. Kemudian selang tiga tahun kemudian, saya bisa membeli Ferrari California.

Saya pun baru saja membeli sebuah mesin printing seharga 10 miliar yang bisa mencetak satu produk yang pangsa pasarnya tinggi di Indonesia, terutama perempuan. Berbeda dengan Ferrari, harga mesin printing ini empat kali lipat lebih mahal.

Kiat jadi pengusaha sukses dan bisa bangkit lagi ketika gagal?

Sebenarnya semua orang bisa sukses, yang membedakan adalah ketika kita mau berusaha lebih. Kita punya 24 jam waktu yang sama, namun masing-masing memiliki kesempatan berbeda. Untuk itu, saya sarankan untuk bergaul dengan orang-orang sukses. Kita bisa belajar banyak dari mereka.

Ketika gagal, jangan dengarkan apa kata orang, terutama mereka yang kerap merendahkan dan mencibir kita. Yakinkan diri kalau kita mampu bangkit lagi dan buktikan kepada mereka kalau kita bisa sukses meski dengan sumber terbatas.