Otti Jamalus – “Bagi Saya, Jazz Seperti Napas dan Urat Nadi”

Selain dikenal sebagai musisi jazz yang malang melintang di dunia musik, perempuan kelahiran Jakarta, 27 Oktober 1968 ini juga aktif sebagai pelatih vokal untuk beberapa penyanyi populer di Indonesia. Kemampuannya dalam bermusik menjadikannya sebagai salah satu musisi jazz terbaik Indonesia yang kerap tampil di sejumlah festival jazz, baik dalam maupun luar negeri.

Secara eksklusif, perempuan yang memiliki nama lengkap Reni Ottini Jamalus ini menceritakan pengalamannya hingga menjadi musisi jazz kenamaan seperti saat ini. Ia pun berbagi tips agar bisa konsisten dan terus eksis di industri musik. Penasaran? Simak wawancara Buletin Indo bersama Otti Jamalus berikut ini.

 

 

Bagaimana Anda mangawali karier sebagai musisi jazz?

Saya mengawali karier di bidang jazz sejak 1990, sebagai pianist berikut penyanyi. Saat itu disebut singing pianist, di bawah bimbingan dan naungan musisi besar Idris Sardi alm dan Sadikin Zuchra alm. Lalu sekitar 1993, seorang gitaris jazz senior bernama Oele Pattiselanno dan adiknya yang merupakan seorang drummer Jack Pattiselanno alm, mengajak saya bergabung menjadi penyanyi di dalam grup mereka.

Sangat beruntung bagi saya saat itu karena melalui merekalah saya kenal dengan maestro jazz piano Bubbi Chen alm, Embong Rahardjo alm, Maryono alm, Benny Likumahuwa dan lain-lain. Saya pun sempat bermain bersama dengan para musisi jazz senior tersebut. Gemblengan mereka saat itu sangat berat, terutama di bidang mental. Namun, saya sangat bersikeras ingin benar-benar belajar dengan mereka. Saya sangat bersyukur bisa bertemu mereka langsung saat itu. Suatu pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Apa arti musik jazz bagi Anda?

Sebagai musisi atau penyanyi yang memulai belajar dari jenis musik klasik selama 14 tahun, lalu saya tertarik mempelajari jazz lebih dalam, semua jenis musik sangat berkesan buat saya. Klasik, pop, jazz, semua mempunyai ruang sendiri-sendiri di hati saya. Jika sampai ditanya, “Apa arti musik jazz buat saya,” jawabannya adalah seperti napas dan urat nadi.

Selain musisi, Anda juga dikenal sebagai pelatih vokal kenamaan. Siapa sajakah penyanyi yang pernah Anda gembleng?

Jujur saya tidak bisa menyebutkannya satu per satu. Beberapa yang saya ingat adalah Titi DJ, Glen Fredly (piano), Agnes Monica, Group vokal B3, Bunga Citra Lestari, Nino Kayam “RAN”, Rendy Pandugo, Endah dari “EndahRhesa”, Adikara Fardy, The Overtunes, dan lain-lain.

Untuk menjadi musisi, apakah seseorang harus memiliki bakat bermusik?

Jawabannya ya dan mutlak, harus memiliki bakat musik. Jika lebih jauh ingin terjun sebagai musisi profesional, selain bakat juga harus diikuti dengan atitude dan mental yang baik dan tangguh. Tidak boleh cepat puas dan selalu harus menjaga kualitas.

Bagaimana perkembangan musik jazz di Indonesia saat ini apabila dibandingkan dengan 10 tahun lalu?

Sangatlah jauh perkembangannya. Pesat sekali, seiring dengan adanya internet, jendela dunia seperti terbuka lebar di depan mata kita. Semua informasi dengan mudah dan gamblang bisa didapat. Berkenalan dan bertukar ilmu dengan musisi jazz kelas dunia bukanlah sesuatu yang sulit lagi. Kondisi yang positif ini tentu membuat musisi-musisi generasi berikut bisa dengan leluasa bereksperimen dan berkembang. Sangat menggembirakan dan menggairahkan!

 

 

Tips agar bisa konsisten dan eksis bermusik hingga saat ini?

Terus berlatih secara teknis. Beruntung, saya mendapatkan jodoh seorang suami yang juga merupakan musisi, Yance Manusama (bassist). Ia selalu mengingatkan saya untuk disiplin latihan serta bertanggung jawab penuh terhadap kualitas dan komitmen sebagai musisi profesional. Selain itu, selalu bersilaturahmi dengan musisi-musisi muda/generasi-generasi di bawah saya sehingga kita justru bisa belajar banyak dari mereka dengan energi positif. Saya pun sering berkolaborasi dengan mereka. Sangat menyenangkan.

Anda pun telah membuka sekolah musik bernama OJ Music House. Kapan berdiri dan apa bedanya dengan sekolah musik lain?

OJ Music House berdiri pada Juli 2009, dan berlokasi di jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan. Sebagai sarjana pendidikan musik yang lulus dari IKIP Jakarta pada 1991, saya mempunyai komitmen ingin mengabdikan diri di dunia pendidikan, dengan penekanan bahwa segala sesuatu harus didasari dengan sikap dan mental yang baik. Perbedaannya dengan sekolah musik lain adalah konsep “We customized the students” yang kami jalankan. Di OJ Music House, ada yang datang dengan niat serius belajar dan ingin terjun di dunia industri musik, ada yang sebagai terapi untuk kesembuhan penyakit (cancer/stroke), ada yang sekadar hobi pelepas stress, serta ada pula yang berniat serius untuk mendukung sekolah dan meneruskan perguruan tinggi musik di luar negeri.

Masing-masing akan ditangani dengan bahan, metode, dan sarana/fasilitas yang sesuai dan memadai. Ujung dari masa pembelajaran bukanlah sekadar meraih selembar sertifikat, namun siswa berkarya. Kami sediakan sarana studio yang lengkap dan profesional untuk proses pembuatan karya tersebut. Hasilnya akan lebih real dan dapat dinikmati. Saya sendiri sebagai pendiri sekaligus kepala sekolah tidak mempersoalkan hasilnya, namun lebih menekankan kepada proses belajar mengajar. Jika prosesnya baik, sudah barang tentu akan diikuti hasil yang baik.