DARWIS-1

Darwis Triadi – Fotografer Profesional Lintas Generasi

Selama lebih dari 40 tahun, fotografer profesional ternama di Indonesia, Darwis Triadi, malang melintang di dunia fotografi. Tak hanya jago kandang, Darwis Triadi juga dikenal dunia sebagai sosok fotografer senior yang konsisten dan berkarisma. Menariknya, meskipun saat ini banyak fotografi muda yang bermunculan, nama pria kelahiran 15 Oktober 1954 ini tetap moncer dan dikenal sebagian besar generasi milenial.

Ia bahkan kerap menjadi pembicara di seminar maupun workshop fotografi, dan juga didapuk sebagai brand ambassador oleh salah satu merek kamera kenamaan. Bagaimana perjalanan karir Darwis Triadi sampai menjadi fotografer glamor dan fashion hingga saat ini? Dan apa resepnya agar bisa bersaing dengan fotografer profesional muda?

Kapan pertama kali Anda memotret dan apa kamera pertama yang Anda gunakan?

Saya memotret kurang lebih mulainya dari tahun 1979 atau 1980-an, sekitar 40 tahunan lebih. Kamera yang saya gunakan pertama kali adalah Nikon F keluaran tahun 1969 atau 1970, dan itu masih menggunakan film.

Ceritakan secara singkat perjalan karier Anda dari awal hingga menjadi fotografer profesional?

Saya sebelumnya berprofesi sebagai pilot. Saya sekolah penerbangan di Curug, Banten dan mejadi pilot selama hampir dua tahun. Lalu saya keluar pada 1979 dan menganggur selama sekitar satu tahun. Saat itu, saya tidak tahu mengapa saya pindah haluan ingin jadi fotografer. Saya juga agak bingung mau sekolah fotografi di mana, jadi ya saya belajar secara otodidak. Baru setelah tahun 1982/1983, saya rajin ikut photography short course semacam workshop singkat soal teknik-teknik kamera dan pencahayaan, terutama di Eropa. Kalau enggak di Jerman ya di Swiss, karena memang di sana pusat alat-alat fotografi.

Apa karya fotografi pertama yang mengangkat nama Anda menjadi seorang fotografer profesional?

Setelah saya mulai memotret komersial sejak tahun 1982, lalu pada tahun 1984/1985, saya momotret produk Panasonic untuk kalender. Dari situlah saya mendapatkan satu penghargaan di Jepang, namanya Matsushita Awards. Akhirnya orang mulai mengenal saya di dunia fotografi, terutama orang tahu saya sebagai professional photographer.

Banyak kalangan beranggapan kalau fotografer yang memulai karir dari kamera analog memiliki insting yang lebih tajam ketimbang fotografer yang memulai karir di era digital. Benarkah?

Sangat betul, karena sekarang dengan perkembangan tehnologi digital, orang lupa akan esensi fotografi itu sendiri karena begitu mudahnya orang memotret. Misalnya kalau mengalami kesalahan atau bahkan hasil foto kurang fokus, bisa dibetulkan dengan menggunakan Photoshop atau diedit. Fotografi buat saya adalah eksplorasi di dalam cahaya dan kita harus belajar cahaya. Sekarang orang lupa akan essensi itu.

DARWIS-2

Anda dikenal sebagai fotografer model. Apa saja tantangannya?

Sejak menjadi seorang fotografer memang secara khusus saya mempelajari bagaimana memotret orang. Saya lebih mengkonsentrasikan memotret model perempuan. Dalam hal ini saya sampai belajar mengenai human sexology atau artinya lebih belajar bagaimana memahami sosok perempuan. Juga sampai belajar anatominya segala, jadi itu sudah menjadi satu paket. Kalau ditanya sekarang saya motret model itu seperti apa, saya tahu dari hulu sampai hilir. Dulu tantangannya adalah saya harus bisa memahami atau bisa menangkap ekspresi wajah dan kontur tubuh dengan baik. Dari situlah saya belajar, tapi sekarang tidak ada tantangannya lagi karena sudah menjadi hal yang biasa.

Tips agar karir di dunia fotografi tetap bersinar?

Saat ingin menginjakkan kaki sebagai seorang fotografer, ada tiga hal yang harus kita jalankan. Pertama adalah spirit, kedua motivasi, dan ketiga adalah mentality. Tiga hal itulah yang sebetulnya bisa menjadikan kita sebagai fotografer profesional. Misalnya, kalau kita tidak punya spirit, suatu saat kita akan mandek. Kemudian, kalau tidak punya motivasi, 10 atau 30 tahun lagi kita akan begitu-begitu saja. Seorang fotografer juga harus punya mental yang betul-betul kuat. Jangan sok merasa senior dan jangan merasa jago. Dari situ kita akan terus bercermin dan introspeksi diri.

Belum lama ini Anda memotret Presiden Joko Widodo. Ceritakan pengalaman Anda selama memotret orang nomor satu di Indonesia tersebut.

Sebetulnya, beliau (Jokowi) sudah lama ingin difoto sama saya, mungkin sejak tiga tahun ini, kata beliau belum jodohnya atau sulit mencari informasi bagaimana mengontak saya. Pada akhirnya, pak Jokowi menyuruh seseorang mengontak saya dan akhirnya saya memotret. Ada satu hal yang sangat menarik buat saya, dan ini menjadi satu pengalaman luar biasa. Dalam perjalanan hidup saya, belum pernah melihat seorang tokoh nomor 1 di Indonesia yang begitu sederhana, ramah, tidak ada basa basi, dan memberikan suatu kepercayaan secara total kepada saya tanpa embel-embel. Di situlah saya bisa mendapatkan banyak shot yang brillian karena keterlepasan beliau memberikan saya kepercayaan. Buat saya memotret itu suatu hal yang sifatnya trust.

Bicara soal Jokowi, Anda pun sangat mendukung beliau untuk kembali menjadi presiden. Alasan Anda mendukung Jokowi?

Bagi saya, dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia yang saya ketahui, Jokowi hanya satu-satunya seorang pemimpin di Indonesia yang mau mencoba memahami, menjalani, dan melakukan hal terbaik buat bangsa. Bisa dibayangkan seorang presiden masih bisa blusukan ke tempat-tempat yang kumuh. Dia bahkan bisa melakukannya dari sabang sampai merauke dan itu semua dilakukan dengan sebuah ketulusan.