NATHANIA-2

Nathania Karina – Konduktor “Nekat” yang Merengkuh Gelar Doctor

Nathania Karina dikenal sebagai music director di Trinity Youth Symphony Orchestra (TRUST). Ia pun kerap tampil sebagai konduktor di sejumlah pagelaran orkestra bergengsi di beberapa negara. Prestasinya pun tak perlu diragukan lagi, wanita yang akrab disapa Nia ini telah menerima gelar Doctor of Musical Arts di Music Education dari Boston University pada 2015.

Selain itu, ia juga menyabet Master of Music dengan gelar ganda di bidang Piano Performance and Music Education pada 2009 dari The University of Melbourne. Namun siapa yang menyangka bahwa semua keberhasilan yang ia rengkuh saat ini diperolehnya dari modal nekat. Penasaran? Simak pengakuan Nathania Karina berikut ini.

 

Apa kesibukan Anda saat ini?

Sekarang aktif mengajar di sekolah musik saya, Andante Music School. Juga sedang mempersiapkan beberapa proyek bersama Musicmind dan konser-konser bersama TRUST Orchestra. Ada juga kesibukan non pendidikan, karena saya juga memiliki bisnis di music entertainment komersial.

Proyek apa saja yang akan berlangsung dalam waktu dekat?

Kami baru saya menyelesaikan konser Rockin’stra pada Maret dan April kemarin, sebuah konser rock yang diramu dengan sentuhan rock selain orkestra. Kami juga baru mengadakan konferensi pendidikan musik yang pertama di Indonesia pada Mei kemarin. Dan sekarang sedang mempersiapkan untuk Gala Concert dari Indonesia Orchestra Ensemble Festival.

Anda dikenal sebagai konduktor dan juga direktur musi Trust Orchestra. Ceritakan bagaimana awalnya Anda berkecimpung di dunia orkestra?

Awalnya hanya kebetulan, karena saya sebenarnya seorang pianist. Kebetulan karena dulu diminta melatih orkestra di Gereja, berbekal kemampuan membaca not yang katanya “lumayan” dan nekat, akhirnya tanpa sadar sudah kecemplung selama tujuh tahun lebih di dunia conducting ini.

Mengapa memilih orkestra ketimbang jenis musik lain?

Ada kepuasaan tersendiri untuk bisa meng-konduk dan bisa bermain dalam sebuah orkestra. Comradery-nya sungguh luar biasa, dan tentu saja, pencapaian musik tertinggi biasanya ada di orkestra karena bunyinya begitu luas, mewah, serta bisa menghasilkan range dan warna suara yang sangat lebar dan variatif.

 

NATHANIA-4

 

Bisa jelaskan apa itu Trust Orchestra dan saat ini berapa anggotanya?

TRUST adalah organisasi nirlaba di bawah asuhan Trinity Optima Production, salah satu label rekaman terkemuka di Indonesia, sebagai bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Sebagai grup nirlaba, semua dana digunakan untuk mengembangkan dan mendukung kegiatan termasuk konser, masterclass, dan berpartisipasi dalam berbagai festival. Diadopsi dari komunitas orkestra yang berbasis di Jakarta Utara – Andante Youth Community Orchestra – didirikan pada Oktober 2008, audisi pertama diadakan pada Februari 2013 yang berhasil menarik pelamar usia 10 sampai 25 di seluruh Jakarta dan sekitarnya. Saat ini TRUST memiliki lebih dari 50 anggota yang terdiri dari talenta muda terbaik Jakarta, mulai usia 10 hingga 27 tahun dan mengadakan setidaknya tiga kali konser publik setiap tahun.

Sejak awal, TRUST berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang positif, menyenangkan namun intensif bagi para musisi muda untuk belajar dan menghargai musik serta memberikan jalur untuk industri musik. Setiap anggota didorong untuk meningkatkan keterampilan individu mereka sepenuhnya.

Umumnya seorang konduktor adalah pria dan jarang sebuah grup orkestra dipimpin oleh wanita. Bagaimana tanggapan Anda?

Profesi konduktor memang masih lekat dengan gender maskulin. Namun, saya rasa wanita sekarang sudah banyak bisa mengimbangi profesi-profesi yang selama ini dianggap ‘tabu’. Salah satunya adalah di dunia kondukting dan musik. Memang membutuhkan banyak tolerasi dan sifat-sifat maskulin yang biasanya dimiliki pria. Tapi saya rasa seorang wanita juga berhak mendapat kesempatan yang sama di dunia musik.

Lagu apa saja yang Anda bawakan saat tampil bersama tim di atas panggung orkestra?

Kami tidak pernah membatasi jenis musik yang kami mainkan. Kami memainkan segala sesuatu, mulai dari musik tradisional, jazz, classic, pop, hingga rock. Asalkan musiknya dikemas dengan bobot artistik yang baik dan mengusung nilai pendidikan, dengan senang hati akan kami mainkan.

 

“Pendidikan musik yang baik menjadi sesuatu yang sangat langka dan kurang dihargai”

 

Selama Anda berkarir, sudah berapa kali Anda tampil di pentas orkestra tingkat dunia?

Ada empat pengalaman besar yang rasanya tidak terlupakan bagi kami, yaitu ketika tampil di Sydney Opera House pada saat Australian International Music Festival. Kami juga tampil di bawah bimbingan Malaysia Philharmonic Orchestra di Kuala Lumpur, menjadi special project di panggung besar International Java Jazz Festival, dan yang terakhir berkolaborasi dengan Siero Chamber Orchestra dari Spanyol.

Tentunya banyak sekali masalah yang timbul di grup orkestra karena perbedaan. Bagaimana Anda menjaga tim agar tetap solid?

Komunikasi yang baik menjadi kunci dari segala sesuatu. Team work yang solid juga menjadi modal besar. Kami percaya ini adalah sebuah keluarga besar, jadi jangan membesar-besarkan masalah yang tidak perlu. Semua diselesaikan dengan baik-baik dan dengan komunikasi yang terbuka. Mengerti setiap keunikan individual dan memiliki visi yang sama untuk mencapai tujuan akhir juga sangat penting.

Menurut Anda, apa tantangan terbesar saat ini untuk dunia orkestra di Indonesia?

Musisi kita masih sangat terbiasa dengan budaya instan, sehingga di industri musik, kita masih menemukan budaya-budaya lipsync. Padahal, mereka tampil di siaran televisi nasional. Hanya bermodalkan good-looks, sesorang bisa tampil di TV tanpa memiliki skill yang cukup.

Sementara negara-negara terdekat seperti Singapura dan Malaysia sangat menggenjot generasi mudanya dan dipupuk sedemikian rupa agar dikemudian hari dapat menjadi pribadi/musisi yang berkualitas.

Kalau semua mau kembali ke prinsip PROSES adalah yang terpenting dan mengutamakan PENDIDIKAN, bukan hasil, rasanya hal ini bisa menjadi langkah awal yang baik.

Siapa konduktor idola Anda?

Gusatvo Dudamel (Venezuela). Seorang yang datang dari jalanan, akhirnya menjadi musisi kelas dunia. Dia memiliki mimpi besar untuk negaranya, musik, dan dirinya sendiri. Mimpinya diwujudkan dengan kerja keras dan idealisme. ini yang masih sangat kurang di Indonesia.

Iskandar

 

NATHANIA-1