Profil-24---pic-2

Alvin Ghazalie dan Misi Lesar

Sebagian dari Anda mungkin belum banyak yang mengenal sepasang musisi jazz muda nan berbakat ini. Maklum, mereka terbilang pendatang baru. Namun belakangan ini kiprah mereka di industri musik jazz Tanah Air kerap menjadi buah bibir di kalangan penggila musik jazz. Dua Empat yang terdiri dari Alvin Ghazalie dan Misi Lesar juga rajin tampil di acara gigs alias pagelaran musik. 

Ya, Dua Empat merupakan proyek yang penuh cinta dan dedikasi. Alvin dan Misi adalah lulusan dari UPH Conservatory of Music dengan gitar menjadi alat musik pilihan mereka. Pada 2017, pasangan muda ini merilis debut album bertajuk ‘Two of A Kind’, menampilkan lagu-lagu tentang perjalanan yang mereka alami bersama sebagai musisi, mahasiswa, manusia, dan hubungan mereka sendiri.

Ingin tahu lebih dalam tentang mereka? Tanpa panjang lebar, simak wawancara eksklusif Buletin Indo bersama Dua Empat.

1. Ceritakan bagaimana Dua Empat terbentuk? 

Berawal dari kecintaan kami terhadap jenis musik yang sama, yaitu musik jazz. Kami sering latihan bareng, jamming bareng, saling bertukar referensi, sampai bikin lagu bareng. Lalu suatu hari kami berpikir untuk buat album karena sayang kalo lagu yang sudah kami buat ini cuma bisa dinikmati sendiri aja. Kalo nggak direkam nanti lama-lama pasti lupa dan akhirnya jadi sia-sia deh. Hehehehe….

Lalu kami mulai siapkan materi untuk rekaman dan seiring waktu berjalan kami juga mulai cari-cari gigs untuk memperkenalkan Dua Empat ke orang-orang sekalian buat promo album pas nanti albumnya keluar. Jadi sebenarnya Dua Empat itu terbentuk seiring berjalannya proses pembuatan album pertama kami.

2. Mengapa kalian memilih nama Dua Empat dan apa filosofi di balik penamaan tersebut? 

Nama Dua Empat diambil dari tanggal kami jadian (pacaran), 24 Desember, as simple as that.

3. Apa yang membuat kalian memilih aliran musik Jazz? 

Menurut kami, musik Jazz bisa menjadi media untuk berbagi pengalaman hidup kami. Kami bisa bebas berekspresi melalui musik Jazz.

4. Kalian telah menelurkan mini album ‘Two of A Kind’. Bisa ceritakan hal-hal seru di album ini? 

Komposisi-komposisi yang tercipta di album ‘Two Of A Kind’ mostly based on pengalaman yang kami alami berdua. Contohnya, di lagu Siladen dan Ocean Blues, kedua lagu itu tercipta ketika kami sedang berlibur ke Manado–melihat indahnya pulau Siladen, pantai yang sangat indah, matahari bersinar sangat terang, dan deburan ombak.

Lagu Different Kind Of Blue merupakan cerita pertama kali kami bertemu, lalu ternyata kami punya referensi musik sama. Kami saling share musisi-musisi jazz yang kami saling suka, nge-jam bareng, dan latihan bareng. A Night Before Christmas adalah lagu yang menceritakan ketika Alvin mengungkapkan cinta ke Misi, dan official pacaran di tanggal 24 Desember.

Album ‘Two Of A Kind’ sengaja kami kemas dengan desain yang fun, lalu kami sertakan postcard yang berisikan lirik dari setiap lagu-lagu di dalam album tersebut. Kami ingin membuat kesan ‘jazz’ (khususnya swing, bebop, brazillian) tidak dianggap musik yang membingungkan/sulit. Kami ingin membuat penikmat musik di Indonesia bisa mulai menikmati dan mencerna musik-musik jazz seperti ini, tanpa mengurangi idealisme kami dalam bermusik.

5. Bagaimana respons penikmat musik Jazz terkait ‘Two of A Kind’? 

Responsnya sangat baik, justru kami kaget, jumlah stream di Spotify di beberapa lagu bisa sampai di atas 90.000 views. Menurut pantauan kami, sangat sulit untuk musik jazz bisa menyentuh angka tersebut, terlebih di Indonesia. Penjualan CD fisik juga cukup bagus, dan cukup banyak respons positif dari pendengar Dua Empat.

6. Apa yang kalian lakukan untuk mendongkrak mood yang sedang turun? 

Kami mencoba untuk melakukan aktivitas lain selain bermusik, seperti jalan-jalan, hunting piringan hitam, kuliner, dan mencoba makanan baru yang enak.

7. Bagaimana perkembangan musik Jazz di Indonesia menurut pandangan kalian? 

Perkembangan musik Jazz di Indonesia berkembang cukup pesat, dilihat dari sisi musisinya, sudah mulai banyak teman-teman musisi yang sekolah musik di dalam negeri maupun di luar negeri, sehingga ketika mereka kembali ke Indonesia bisa menciptakan scene jazz baru di sini.

Untuk festival jazz juga kian banyak di Indonesia. Kami berharap scene Jazz di Indonesia semakin berkembang lagi dan banyak orang yang tertarik dengan musik ini.

8. Apa obsesi kalian yang belum terwujud dan ingin diwujudkan dalam waktu dekat? 

Kami ingin tour keluar negeri, mungkin Asia dulu. Kalau mendapatkan kesempatan kami sangat ingin share musik kami sampai ke seluruh dunia. April ini, kami akan tampil di salah satu festival musik jazz terbesar di Singapura.

9. Apa aktivitas lain yang sering dilakukan di luar bermusik? 

Kami suka nonton bioskop, main board game, berburu kuliner juga, dan menonton konser.

10. Jika disuruh memilih, siapa musisi idola yang ingin kalian ajak untuk berkolaborasi? 

Wah banyak sekali, hahahahaha… Kami ingin berkolaborasi dengan Dianne Reeves, Benny Bennack, Diana Krall, Cyrille Aimee, Eliane Ellias, Joey DeFransesco, dll.

 

Apple Music : https://goo.gl/9sEhNT

Spotify : https://goo.gl/2PF7y5

 

Profile-24---pic-1