ARI-4-K

Arie Kriting – Mengolah Gagasan Lewat Stand Up Comedy

Pria kelahiran Kendari, Sulawesi Tenggara ini tak gentar menghadapi kritik dan menganggap hal itu sebagai warna untuk terus berkarya. Tak hanya aktif sebagai komika yang sering tampil di atas panggung Stand Up Comedy, Arie Kriting kini juga dikenal sebagai pemeran film. Dan siapa sangka, pria yang memiliki nama lengkap Satriaddin Maharinga Djongki ini juga berada di balik kesuksesan beberapa film komedi populer Tanah Air.

Ya, komika yang kerap memakai materi seputar daerah asalnya untuk mengocok perut penonton itu kini juga berprofesi sebagai comedy consultant (konsultan komedi). Arie sempat didapuk sebagai konsultan komedi dalam film ‘Ngenest’, ‘Warkop DKI Reborn’, dan ‘Gila Lu Ndro’. Terbaru, ia terlibat dalam film ‘Susah Sinyal’ arahan Ernest Prakasa. Bagaimana ia memulai karier sebagai komika hingga menjadi salah satu sosok yang berpengaruh di panggung komedi Indonesia? Simak wawancara eksklusif Buletin Indo bersama Arie Kriting.

 

ARI-2

 

Anda dikenal sebagai salah satu komika terpopuler di Indonesia. Bagaimana Anda memulai karier sebagai komika? 

Saya memulai karir sebagai komika lewat Open Mic Stand Up Indo Malang. Sekitar dua tahun stand up di kota itu dan dua kali menjadi opener-nya Ernest Prakasa, atas saran dari beberapa teman, saya mengikuti audisi Stand Up Comedy Indonesia di Kompas TV pada 2013. Saat season kedua saya lolos audisi, tapi tidak sampai masuk grand final. Nah, di Stand Up Comedy Indonesia season tiga, saya lolos audisi kemudian berkesempatan untuk mengikuti babak final di Jakarta. Dari season tiga inilah karier Stand Up Comedy saya di kancah nasional dimulai.

Apa yang membuat Anda terjun di panggung komika? 

Yang membuat saya terjun sebagai komika, ketika saya kuliah di Malang, beberapa kali mengikuti aksi mahasiswa merasa cukup tertarik dengan dunia aktivisme, berorasi, dan mengatakan hal atau gagasan-gagasan yang ideal. Tetapi kemudian kegiatan aktivisme saya berhenti, dan lingkaran saya juga sibuk masing-masing sehingga mulai tidak fokus dengan apa yang diperjuangkan. Lalu saya melihat lewat Stand Up Comedy orang-orang bisa maju ke atas panggung dan mengutarakan gagasannya terhadap sesuatu dan orang yang mendengarkan tertawa dan menyimak.

Kemudian saya menyadari bahwa Stand Up Comedy itu ternyata muncul dari keresahan-keresahan dan gagasan-gagasan. Di Stand Up Comedy pun kita mampu mengolah bahasa yang kita sampaikan. Kalau orasi itu kan berapi-api, sedangkan di Stand Up Comedy kita bisa mengolah gagasan yang ingin kita sampaikan menjadi sebuah twist komedi yang justru menghibur orang lain. Menurut saya, Stand Up Comedy itu bisa dilihat dari dua sisi yaitu dari hiburan yang kita tampilkan dan pesan tersirat yang ingin kita sampaikan.

Siapa komika favorit Anda, baik lokal maupun luar negeri? Ungkapkan alasannya …

Komika dari luar negeri favorit saya yang pertama adalah Chris Rock karena materi-materi dan konten konten politiknya. Dia bisa menyampaikan aspek yang penting tapi tidak kehilangan unsur komedinya. Kedua adalah Rachel Peters, dia mampu mengulik komedi dari komparasi berbagai macam etnis kemudian menjadi dasar saya ketika menulis materi komedi. Kemampuannya untuk mengkomparasikan isu-isu perbedaan ini cukup unik.

Ketiga adalah Bill Cosby, saya suka pembawaannya di atas panggung karena dia tampak wise, tenang, dan tidak tergesa-gesa. Juga tidak terlalu bersemangat, tapi ketawa yang dihasilkannya itu sangat kuat. Kalau dalam negeri saya suka materi-materinya Pandji Pragiwaksono dan Ernest karena dua komika ini menurut saya adalah komika dengan model penulisan yang luar biasa rapi. Mereka juga konsisten dan disiplin menulis.

Punya resep jitu untuk menjaga mood agar selalu bisa membuat skrip yang bikin orang terbahak-bahak?

Kalau resep membuat materi lucu sih, saya pikir tidak ada formulanya karena Stand Up Comedy itu selalu lahir dari keresahan. Mungkin cara untuk menjaga mood dan untuk bisa menemukan materi adalah dengan tidak cepat puas dan tidak betah di zona nyaman.

Selain aktif di panggung komika, Anda juga berambah ke dunia perfilman. Apa kesan mendalam yang Anda dapat? 

Sebenarnya ini adalah dua seni yang berbeda secara eksekusi, tapi secara disiplin dan ilmu sama. Baik film maupun stand up, disiplin ilmunya itu adalah penulisan. Sebuah naskah Stand Up Comedy ditulis dengan mengerahkan pikiran dan kemampuan untuk bisa memberikan gambaran kepada masyarakat, demikian halnya juga dengan film. Sebuah skenario film ditulis untuk bisa membangun sebuah adegan yang bisa dilihat oleh masyarakat.

Anda juga dikenal sebagai comedy consultant di sejumlah film. Jelaskan apa itu comedy consultant?

Comedy consultant sebenarnya sama dengan fighting director atau koreografer dalam adegan fighting di film action. Comedy consultant bertugas untuk memutuskan tone komedi apa yang akan dibawakan dalam film, kemudian menjaga ritmenya dan eksekusi adegan di lapangan sehingga dia bisa tahu apa yang berhasil dan mana yang tidak dari adegan komedi yang ditampilkan.

Bagaimana Anda memandang kritik terhadap penampilan Anda selama ini? 

Bagi saya seni adalah murni hasrat individu. Saya melihat seni sebagai sesuatu yang personal dan kritik sebagai warna. Saya tidak menjadikan kritik sebagai beban pikiran. Orang memiliki hak untuk mengkritik, tapi di sisi lain kita juga punya hak jawab atau hak untuk mengkritik sebuah kritikan.

 

ARI-3