KORNELIS-2

Kornelis Ndapakamang – Sang Maestro Tenun Ikat Sumba

Manusia dan alam merupakan elemen yang tak bisa terpisahkan. Tanpa alam, manusia tidak mampu bertahan hidup. Begitu pula dengan alam, tak bisa bertahan lama tanpa dirawat oleh manusia. Alam banyak memberikan inspirasi bagi kehidupan, di mana manusia bisa berkarya melalui kekayaan alam yang ada di sekitar. Inilah yang dilakukan Kornelis Ndapakamang sejak tahun 1994.

Ia bersahabat dengan alam untuk menciptakan sesuatu tak ternilai, yaitu Tenun Ikat Sumba yang kini sedang tren di kalangan pecinta fashion. Bagaimana keseharian sang maestro Tenun Ikat Sumba ini dalam membuat tenun ikat dari pewarna alam? Simak wawancara eksklusif berikut ini.

Sejak kapan Anda bergelut di bidang Tenun Ikat Sumba?

Saya mulai bergelut di bidang usaha Tenun Ikat Sumba dengan warna alam sejak tahun 1994. Keterampilan tentang tenun itu diwariskan oleh Ibu saya. Karena faktor ekonomi, saya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan saya lebih tertarik ke usaha tenun. Padahal kala itu, keahlian tentang tenun ini didominasi oleh kaum perempuan.

Bagaimana cara Anda melestarikan Tenun Ikat Sumba?

Cara melestarikan Tenun Ikat Sumba adalah tetap konsisten dengan warna alam, mempertahankan motif lokal, proses tenun yang manual, dan kualitas tenunan. Yang terpenting adalah menanam tumbuhan pewarna alami agar pasokan warna tetap tersedia.

Kira-kira, saat ini ada berapa perajin Tenun Ikat Sumba. Apakah Anda memiliki komunitas?

Badan Pusat Statistik kabupaten Sumba Timur mencatat ada 2.740 unit usaha rumah tangga yang memproduksi tenun ikat. Dari jumlah itu tenaga kerja yang diserap sebanyak 4.926. Kami mempunyai kelompok tenun ikat warna alami bernama Paluanda Lama Hamu, dengan anggota 45 orang yang tersebar di tiga desa.

Saat ini kami bekerja sama dengan Yayasan Sekar Kawung dari Bogor untuk pengembangan ekonomi hijau. Mereka sangat peduli terhadap pelestarian budaya tenun ikat warna alami. Kehadiran Sekar Kawung di kelompok kami membawa perubahan yang sangat besar untuk peningkatan kesejahteraan para perajin tenun ikat.

Mengapa Anda memilih pewarna alami dalam membuat Tenun Ikat Sumba?

Saya tetap fokus dengan warna alam karena merupakan warisan dari nenek moyang kami. Penggunaan warna alam pada tenun ikat sangat ramah lingkungan. Semua bahan pewarna alam ada di wilayah sekitar kami. Tumbuhan pewarna bisa dibudidaya di lahan kami sendiri dan pemeliharaan tanaman pewarna tidak sulit.

 

KORNELIS-3

 

Apa jenis tumbuhan yang Anda pakai untuk pewarna alam. Apakah sulit untuk mendapatkannya?

Bahan pewarna alam yang kami gunakan adalah dari tumbuh-tumbuhan. Ada sekitar 30 jenis tumbuhan yang digunakan untuk proses tenun ikat. Untuk memperoleh warna biru kami menggunakan daun indigo, merah dari akar mengukur, sementara coklat dari kulit kayu bakau, sidowaya, daun dan kayu mahoni serta masih banyak tumbuhan yang menghasilkan warna alam. Dalam memilih warna alam, saya lebih mengutamakan tingkat ketahanan warna agar tidak mengecewakan konsumen.

Berapa lama proses pembuatan untuk satu Tenun Ikat Sumba?

Proses pembuatan kain tenun ikat warna alam memakan waktu 4 – 15 bulan. Sangat bergantung dari cuaca, kerumitan motif, dan ketersediaan bahan baku pewarna. Proses pembuatan kain tenun ikat warna alam sekitar 40 tahapan dari awal sampai selesai.

Harga rata-rata Tenun Ikat Sumba yang Anda tawarkan. Berapa harga termahal yang pernah terjual? 

Untuk harga pun ditentukan dari tingkat kerumitan motif, ukuran, dan warna. Ukuran selendang dibandeol sekitar Rp.350 ribu – Rp.1 juta, ukuran syal Rp.1 juta – Rp.2,5 juta, untuk sarung Rp.2 juta – Rp.5 juta, untuk kain ukuran besar sekitar Rp.4 juta – Rp.15 juta, kain antik dan tua Rp.10 jt – Rp.35 juta. Harga tertinggi yang saya pernah jual adalah Rp.35 juta.

 

KORNELIS-4

 

Strategi Anda untuk mengenalkan Tenun Ikat Sumba ke pasar yang lebih luas? 

Strategi untuk mengenalkan Tenun Ikat Sumba adalah sering mengikuti lomba kriya di tingkat nasional, menitipkan kain tenun kepada kenalan yang biasa mengikuti event-event tingkat dunia, dan yang paling sering adalah mengikuti pameran tenun di tingkat nasional di Jakarta. Selain itu, kami berinovasi untuk membuat kain yang agak tipis dan halus untuk kebutuhan fashion.

Apakah banyak orang dari luar negeri yang menjadi pelanggan hasil kerajinan ini? 

Banyak. Saya tidak dapat menyebutnya satu persatu, tetapi sebagian besar datang dari Amerika, Inggris, Prancis, Jepang, China, Malaysia, Australia, Chili, Jerman, dan terakhir yang mengunjungi adalah dari Polandia.

Apakah generasi milenial saat ini mulai suka dengan produk lokal, termasuk Tenun Ikat Sumba? 

Generasi muda semakin mencintai tenun lokal karena ada inovasi dari sisi ukuran, warna, dan gampang di pakai. Akhir-akhir ini minat akan tenun warna alam sangat meningkat karena banyak artis yang memakainya. Selain itu makin banyak pula anak muda yang mau belajar tentang pembuatan kain tenun ikat warna alam. Mereka sudah menyadari bahwa keterampilan tenun ikat sangat membantu untuk peningkatan ekonomi.

Bagaimana cara merawat Tenun Ikat Sumba dengan pewarna alam agar kondisinya selalu terlihat baru? 

Cara merawat kain tenun ikat warna alam adalah ketika mencuci jangan sering memakai deterjen. Dianjurkan mencuci kain tenun dengan shampo atau sabun lerak.

Apa pesan Anda untuk para pembaca Buletin Indo? 

Banyak hasil kerajinan Indonesia yang bagus dan diminati oleh dunia, akan lebih baik jika masyarakat Indonesia yang ada di luar negeri, terutama di Australia untuk mulai menggunakan, bangga dan mempromosikan hasil kerajinan Indonesia, Tenun Ikat Sumba ini salah satunya.

Isk

 

KORNELIS-1