DIANS1

Dian Sastrowardoyo

Nama wanita kelahiran 16 Maret 1982 ini melejit setelah berperan sebagai Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta? pada 2002. Dian begitu ia biasa disapa bahkan sempat dianggap sebagai ikon kebangkitan film nasional saat itu. Istri dari Maulana Indraguna Sutowo ini meraih beberapa penghargaan film. Pada 2002, ia dinobatkan sebagai Aktris Terbaik dalam Festival Film Asia Deauville, Perancis, dan Festival Film Internasional Singapura ke-15 atas perannya dalam film ‘Pasir Berbisik’.

Pada tahun yang sama, ia juga terpilih menjadi Aktris Terpuji pada Festival Film Bandung untuk perannya dalam film ‘Ada Apa dengan Cinta’. Tak hanya piawai berperan di dunia perfilman, wajahnya juga kerap muncul di sejumlah iklan produk kenamaan dan menjadi brand ambasador produk kecantikan global. Dian saat ini tengah merintis sebuah bisnis baru di bidang kuliner dan mendirikan sebuah startup. Ibu dua anak itu juga aktif di media sosial, terutama di Instagram dan Facebook.

Bagaimana keseharian Dian di media sosial dan apa yang dilakukannya bila ada komentar-komentar negatif? Berikut ini bincang santai Buletin Indo bersama Dian Sastrowardoyo.

DIANS2

Anda sangat aktif di Instagram Stories dan bahkan posting-annya sangat banyak. Punya alasan tersendiri?

Karena aku suka (Instagram Stories). Aku kan sebelumnya pakai Snapchat, dan sekarang lebih sering engaging sama followers Instagram aku. Jadi, daripada aku pindah- pindah aplikasi mending pakai Instagram Stories aja. Kenapa banyak update di Stories, sebenarnya tidak pernah ada planning sih, terkadang banyak dan kadang-kadang sedikit tergantung ceritanya hari itu aja. Kalau aktivitasnya banyak, ya otomatis jadi banyak (posting-an di Stories). Misalnya banyak banget yang harus di-share detail- detail tentang hari itu, ya aku posting aja. Kalau misalnya hari itu benar-benar nggak ngapa-ngapain atau nggak ada yang menarik, ya aku nggak posting.

Bagaimana cara menghadapi komentar-komentar negatif di media sosial?

Kalau isi komentarnya cuma hateful dan nggak ada unsur membangun atau masukan positif, ya menurut aku itu sudah kontra produktif, jadi lebih baik aku hapus. Sebab, satu komentar yang jelek bisa mempengaruhi semua yang dipikirkan oleh komentator-komentator lainnya. Daripada merusak suasana, mendingan dihapus dan di-block. Kalau dibiarkan akan ramai terus.

Kalau komentarnya sudah berkenaan dengan SARA harus ditindak dengan tegas. Media sosial perlu disikapi seperti itu, karena menurut aku agama sudah persoalan masing-masing pribadi dan semua orang pasti punya hubungan vertikal sama yang maha kuasa dan sesuatu yang sangat personal yang nggak perlu kita bahas di media sosial. Aku mau edukasi followers, kalau di media sosial tidak perlu harus ngomong seperti itu (menyinggung SARA). Itu dapat membuat lingkungan di media sosial nggak sehat.

Media sosial apa yang sering Anda gunakan?

Sekarang aku paling aktif di Instagram dan Facebook. Snapchat sudah tidak aktif karena aku masuk ke Instagram Stories, sementara Path khusus buat teman-teman dan keluarga. Twitter pakai tapi tidak terlalu aktif. Aku update Twitter untuk aktivitas kerjaan, seperti promosi film atau kasih opini mengenai sesuatu. Interaksi paling sering di instagram.

Punya konsep tersendiri di Instagram?

Sekarang ada tren seperti fashion blogger atau make up blogger. Itu sangat menarik, Instagram sudah berfungsi lebih dari sekadar penghubung sosial, justru jadi seperti platform, di mana kalau kita jago fotografi akhirnya jadi do share fabulous. Kalau kita jago make up, Instagram itu khusus untuk share prestasi jenis make up apa saja yang pernah kita lakukan. Kalau kita bikin akun Instagram atau media sosial perlu kita tentukan konsepnya. Misalnya, akun ini khusus untuk keluarga atau buat jualan, dan akun yang satunya lagu untuk private.

Kalau dicampur aduk jadi agak bingung. Aku sendiri sebenarnya punya dua akun, yang private nggak aku buka untuk umum. Itu khusus untuk keluarga dan teman-teman. Nah, kalau akun @therealdisastr yang follower-nya sampai 4,8 juta itu memang untuk umum. Akun itu ibaratnya khusus buat kerjaan. Jadi, seperti portfolio kerjaan atau aktivitas apa saja yang aku lakukan. Aku juga bikin satu akun yang aku kerjakan sama teman-teman dan juga akun restoran yang baru saja aku buka yaitu @mamjkt, yang isinya makanan semua dan progres tentang restoran.

Sebagai wanita yang bergelut di dunia perfilman dan berbinis, seberapa penting teknologi bagi Anda?

Sebagai orang yang punya beberapa job desc, peran, dan pekerjaan yang berbeda- beda, teknologi sangat berperan penting bagi aku. Segala macam pekerjaan kalau bisa dikerjakan secara mobile. Untuk bisa melakukan pekerjaan secara mobile itu biasanya sangat krusial, jadi sekarang saya menggunakan beberapa smartphone. Aku lebih sering menggunakan smartphone dibanding tablet atau yang lainnya.

Bahkan saat melakukan transaksi perbankan, aku memakai smartphone. Aktivitas promosi dan marketing untuk beberapa perusahaan, semua lewat smartphone. Terkadang aku melakukan hal itu sendiri untuk diunggah ke Instagram via smartphone, bahkan mengedit gambar makanan dan bikin gambar blur juga pakai aplikasi di smartphone.